"You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of. You will never live if you are looking for the meaning of life."
Albert Camus
Dua jam tak melakukan apa-apa bagiku kini biasa. Sekedar duduk dengan bara menyala, segelas suam racun putih berkafein, dan angan mengiring kepul melayang ke langit-langit. Tak lupa renung, dan ia mengusir pergi pikir jauh-jauh. Bagai tawanan kini ide memohon hidup, nyalanya kian redup. Parahnya, beku di kepala menjalar merambah karya. Gambar kini tak berujar, lagu-lagu mati rasa, kebas dalam atmosfer dan suasana. Ego tersimpan dalam lena, menari dengan lelagu senandung detik-detik berlalu. Menggiring menuju tanah yang pernah ku jejaki berulang-kali: tanah mati.
“Cuaca sedang buruk, setidaknya berteduhlah.” Seseorang berwarna terang (atau sama sekali gelap? Tak begitu jelas di mataku) hampiri aku.
“Tak apa, bagiku ini lumrah, cuaca seperti ini telah ku hadapi sepanjang 4 tahun terakhir. Malah kini bagiku tiap cuaca tak ada bedanya. Mereka hanya cuaca.”(1) Jawabku. Kuantitas mengawali terbentuknya konsep primordial akan lumrah-tidaknya sesuatu. Dan tanggapanku tadi muncul atas seberapa sering cuaca (yang baginya buruk) itu meng-ada dalam waktuku. Lalu jeda, detik banyak berlalu dipenuhi diam. Sesekali dia mengajakku berbicara sekedar menanyakan sesuatu yang tak begitu penting. Sesekali juga ia mempersilakanku untuk duduk di sampingnya, “Berteduhlah,” katanya, yang langsung ku tolak sesopan-mungkin.
Baiklah, namun perlukah aku menanggapi perbincangannya? Karena bisa jadi aku memang butuh waktu seperti ini. Waktu yang memberiku kesempatan untuk menyingkirkan kesadaranku tentang waktu itu sendiri. Namun ternyata keadaan ini bertahan dalam waktu yang tak seberapa lama, karena dalam ketiba-tibaan ia tajam bertanya, mata menyelami kedalaman mata.
“Siapa tuhanmu?” ia bertanya. Aku bertanya untuk apa ia bertanya. Selebihnya aku tak berusaha menjawab pertanyaannya meski bisa saja ku paksakan menjawabnya semampuku dengan kalimat-kalimat subjektif, seadanya. Aku hanya membalas tatapannya, tajam, diam.
“Apa agamamu?” ia bertanya lagi dengan nada yang sama. Ah, pertanyaan-pertanyaan (mirip pertanyaan seorang) materialis (dan menghakimi) itu menghujaniku. Ada apa gerangan? Aku memang sempat mempertanyakan hal yang sama padaku, namun itu dulu, waktu sebelum badai ini pertama kali datang dan menyibukkanku, waktu sebelum (akhirnya) ku jawab semua pertanyaan dengan jawaban: “Maaf, aku tak punya waktu.”
Resah dan galau menyublim gelembung-gelembung imaji dalam pikiran, mengutuk keterdiaman, mengutuk usahaku mencaci mati sedang kenyataannya hidupku tak ubahnya ada dalam kematian(2). Dan pemandangan pun beralih pada gelas-gelas kosong dan abu tercecer di sekitaran. Jika ruang ini bukan milikku, waktu ini, cuaca ini, semuanya bukan milikku, lalu apa sebenarnya yang kucari untuk ku miliki? Apa yang membawaku ke sini? Apa yang menjadi alasanku hingga dalam cuaca buruk pun masih saja ku paksakan untuk berjalan?
Pikirku bergolak, warna-warni aneh meruang dalam bentuk yang begitu jarang ku jumpai. Semacam ekstasi berlatar mendung hitam menggantung. Mestikah aku bersyukur? Dan kalimat Christopher McCandless menyingkap dinding kata pejal dan keterbata-bataan: “Happiness is only real when shared.” Kebahagiaan hanya nyata ketika ia dibagi-bagikan.(3)
*
Ku nyalakan handphone, ku buka halaman yang terakhir ku baca tepat sebelum handphone itu aku matikan, ku baca pesan singkatmu. Ya, kali ini aku memilih menjawabnya dan aku menjawab sindirmu dengan pasti: “Aku memilih (untuk mem)buta sejak menyadari keber-ada-an diri.”(4)
_______________________
(1) Semoga tidak berkesan latah karena jawaban tadi dapat dipersingkat dengan hanya menjadi: ”Cuaca buruk? So what gitu loh..”. dan ohya, malah sebenarnya aku ingin balas bertanya: “Buruk? Cuaca buruk itu cuaca yang seperti apa?”
(2) Dengan cerdas N.M. menanggapi statusku yang berujar “Beware, I bite!” dalam halaman FBku dengan mengatai "haha, ga usah sok zombie gitulah brot.."
(3) Sumber lain dapat diperoleh dari film berjudul Into the Wild yang (juga) merupakan film biografi Christopher McCandless.
(4) Sms dari seorang teman. Ia bilang: “...open your eyes... you're not alone...”